SIMPLE PERSONAL BRANDING: 7 LANGKAH AMPUH UBAH TULISAN JADI PENGHASILAN
Personal branding bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan di era digital. Cara kita dikenal hari ini sering kali bukan dari siapa kita, tapi dari bagaimana kita menampilkan diri. Dan kabar baiknya, personal branding bukan soal pencitraan, tapi tentang menyampaikan versi terbaik dari diri kita dengan cara yang tepat.
Daftar Isi
Apa itu Personal Branding dan Mengapa Penting?
“Personal branding mengikuti kemana pun pergi dan terkadang tetap melekat, bahkan setelah meninggalkan sebuah ruangan.”
― Jackie Cantoni

(Sumber gambar: https://www.freepik.com/)
Pada era modern dan digitalisasi saat ini, kita sering dengar tentang “personal branding” disebut-sebut orang. Apalagi jika sudah berkaitan dengan dunia digital marketing.
Sebenarnya apa sih personal branding itu?
Yuk, kenalan dengan istilah itu.
Berdasarkan Harvard Business School, sederhananya personal branding adalah strategi praktis untuk mendefinisikan dan mengekspresikan nilai diri/brand kita.
Goal dari personal branding adalah untuk membangun narasi tentang diri yang akurat, konsisten, menarik, dan mampu menunjukkan keunikan secara jelas.
Tanpa personal branding, maka asumsi dan persepsi orang lain tentang siapa kita, tidak akan dikenali dengan baik.

(Sumber gambar: https://www.freepik.com/)
Nah, jadi sekarang paham kan ya, mengapa personal branding itu penting?
Alasannya jelas, yaitu untuk menentukan dan menunjukkan “unique value” dari diri/brand dan bagaimana cara mempromosikannya secara efektif dan efisien, kena kepada target yang tepat.
Personal branding dapat diaplikasikan secara luas, bisa pada keahlian diri secara pribadi maupun korporat dalam bentuk jasa, bisa juga brand yang berupa produk barang.
Nah, jika yang mau dipromosikan adalah personal branding melalui karya tulisan, maka yang perlu dibranding adalah keahlian menulis, dengan style yang unik tanpa harus meniru orang lain.
Menulis itu simple, cukup siapkan laptop yang dimiliki dan riset, tak perlu beli barang mahal.
Tanpa disadari, merangkai karya lewat tulisan itu bak membangun branding diri tapi tanpa panggung, tak terlihat show off kepada audience, tapi hasil tulisannya berdampak.
Ibarat garam, waktu dimasukkan ke dalam masakan, bentuknya ga kelihatan, melebur jadi satu dengan bahan masakan, tak kasat mata, namun berdampak memberi rasa. Cobalah makan tanpa garam, pasti rasanya hambar, semahal apapun makanan yang dibeli.
Garam tak perlu panggung, tapi impacful. Demikian juga tulisan, seringkali tak perlu koar-koar minta dibaca, tapi kalo kena ke segmen pasar yang tepat, pasti akan berdampak besar. Bahkan berbalik ke penulisnya, jadi cuan.
Nah, gimana caranya membangun personal branding tanpa panggung ini?
Setidaknya ada 7 langkah simple di bawah ini, yang dapat dilakukan oleh siapa saja yang ingin mendapat penghasilan lewat tulisan.
Yuk, simak lebih lanjut!
7 Langkah Membangun Personal Branding Lewat Tulisan
1. Kenali Niche yang Tepat Apa dan Mulailah Menulis
Setiap orang punya niche yang berbeda mau nulis tentang apa.
Apa sih niche itu?
Niche adalah tema atau segmen pasar yang spesifik.
Jika dalam hal tulisan, niche yang mau diambil apa? Apakah membidik segmen pasar teknologi, sains, kecantikan, kehidupan sehari-hari, parenting, atau hal khusus lainnya?
Biasanya niche menyesuaikan dengan kemampuan dan ketertarikan penulis, keresahan apa yang sedang dialami, serta hal apa yang dikuasai. Menulis tentang hal yang dikuasai tentu lebih mudah dan mengalir, dibanding hal yang tidak dikuasai.
Niche juga akan menentukan personal branding, walaupun kadang butuh riset dan analisa pasar agar berkembang lebih baik.

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Setelah niche sudah dapat, baru dilanjutkan dengan action.
Jika kita sudah punya sebuah visi untuk masa depan, termasuk mau menghasilkan dari menulis, ada satu hal yang perlu ditanam dalam benak, yaitu “mulai saja dulu.” Jangan nunggu sempurna baru mulai.
Menulislah dengan sumberdaya yang ada, apa yang ada di depan mata dan dimiliki.
Bisa laptop, ide tema, dan alokasi waktu. Itu adalah sumberdaya yang sangat bernilai. Bagi orang lain mungkin itu hal-hal sepele, tapi bagi seorang penulis, itu modal yang sangat berarti.
Setelah dapat tema dan masih bingung mulainya dari mana, buat outline atau garis besar dari tulisan, tentunya ada struktur umum berisi judul, pembukaan, isi, dan penutup.
Kalo sulit untuk menuangkan ide, bisa dimulai dari riset di-website, lalu coba brainstorming menyambungkan hasil-hasil riset itu dalam satu artikel tulisan.
Setelah tulisan pertama jadi, coba baca, bila alurnya belum mengalir saat dibaca, dapat direvisi, agar tulisan mudah dipahami dan bikin rasa penasaran pembaca terpuaskan.
Jangan lupa juga diedit jika ada kata-kata yang typo, agar tulisan tetap terlihat professional!
Tulisan pertama mungkin terasa kaku dan biasa saja, tapi jika ini dilakukan berulang, percayalah kebiasaan ini akan terbangun dan mengalir begitu saja. Seperti kata istilah, “bisa karena terbiasa.”
Jadi, mulai aja dulu!
2. Bangun Portfolio yang Bernilai dan Konsisten
Setelah tulisan pertama selesai, lanjutlah menulis lagi tulisan kedua, ketiga, keempat, dst. Lakukan secara berulang. Inilah proses membangun portfolio.
Semakin sering menulis, akan semakin terasah dan terampil. Lama kelamaan tulisan yang tertuang menjadi bernilai, bukan hanya bagi penulis, tapi juga pembaca.
Dan selanjutnya, hanya perlu dilakukan dengan konsisten.
“Hal indah dari mengembangkan personal branding adalah semakin besar ia tumbuh, semakin meningkat pula nilai diri.”
― Isaac Mashman
Konsisten adalah kunci sukses yang melibatkan perulangan perilaku, dilakukan terus menerus dalam jangka waktu panjang. Diperlukan komitmen kuat untuk bisa konsisten. Pada akhirnya semua ini hanya dapat diuji oleh waktu.
Tanpa konsisten, portfolio sebagai personal branding tidak akan terbangun dengan baik.
Berdasarkan riset, sesuatu yang dilakukan 21 kali berturut-turut, akan menjadi sebuah kebiasaan.

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Portfolio ini dapat dituangkan ke blog pribadi, bisa pakai medium, blogger, ataupun wordpress.
WordPress sangat direkomendasikan, selain layout yang bisa diatur dengan fleksibel, pemakaian domain (terutama .com) akan menjadi nilai tersendiri yang dapat meningkatkan value penulis dimata pembaca.
Tak mustahil tawaran pekerjaan akan muncul di-kemudian hari.
Mulai sekarang, yuk komit bangun portfolio dengan konsisten!
3. Perluas Publikasi ke Platform Lain yang Tepat

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Jika sudah punya blog dan konsisten menulis disana, coba perluas lagi jangkauan dari tulisan lewat platform-platform lain yang tepat.
Contohnya, bisa kerjasama dengan media-media digital sebagai kontributor disana.
Maka, yang tadinya personal branding hanya sebatas di blog pribadi, sekarang jadi melebar ke platform lain.
Memang semua ini butuh proses, relasi, dan waktu. Tapi percayalah, penghasilanmu tanpa panggung bisa keluar dari kesempatan ini.
Apalagi jika pembaca sudah mengenali gaya bahasa yang menjadi identitas unik dan menyukainya, maka kemungkinan repeat order pasti akan terjadi.
4. Ikuti Kompetisi Menulis

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Tidak ada salahnya untuk coba mengikuti berbagai kesempatan perlombaan menulis. Targetnya bukan hanya untuk sekedar menang, tapi membangun personal branding lewat kompetisi.
Dari sana orang akan mengenali siapa penulisnya, dan bagaimana gaya bahasanya.
Tidak mustahil juga, jika ternyata menang, akan menarik bagi orang lain untuk merekrut sebagai penulis di-platform atau media tertentu. Akhirnya koneksi meluas.
Tak pernah tahu kan, kalo rejeki bisa datang dari mana saja lho!
Pada akhirnya tak sekedar kompetisi, tapi juga koneksi. Itulah manfaat membangun personal branding lewat rangkaian kata-kata.
Ssssstttttt…… Diam-diam menghasilkan.
5. Bergabunglah dengan Komunitas Menulis
Bergabung dengan komunitas sesama penulis itu ibarat menautkan tali ke orang-orang yang satu visi dan frekuensi.
Seringkali ada yang kasih insight unik yang belum pernah kita pikirkan. Bahkan kadang ada juga yang mengajak kolaborasi.
Dari sini, personal branding kita akan dikenali orang, dan seperti punya energi lebih, karena dilakukan bebarengan dengan mereka yang menekuni bidang yang sama.
Kalo kepentok, ada yang ditanya dan kasih opsi solusi.

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Ibarat sapu lidi, kalo hanya 1 buah lidi aja, pasti ga bisa dipakai untuk menyapu. Tapi jika lidi-lidi dalam jumlah tertentu dikumpulkan dan diikat jadi satu, bisa membersihkan tanah dari banyak sampah berserakan.
Demikian juga halnya kalo kita ketemu dengan orang-orang sevisi yang tepat, bisa menciptakan karya bersama yang berdampak dan lebih powerful.
Salah satu komunitas yang sangat direkomendasikan, contohnya Impactful Writing. Disana akan ketemu dengan sesama content writer dan copywriter yang mulai dari nol untuk belajar, bahkan komit ambil kompetensi.
Coba cari, komunitas mana yang sesuai!
6. Ukur Performance dan Sempurnakan Strategi
Setelah kelima hal di atas dilakukan, coba ukur performance dari tulisan yang sudah dituangkan sebagai portfolio, apakah selama ini sudah sesuai dengan goals diawal atau belum.

(Sumber gambar: https://www.canva.com/)
Cara mengukurnya bisa lewat hitungan metrik, seperti berapa views, shares, comments.
Bahkan kalo pakai wordpress, ada plugin yang bisa dimunculkan untuk melihat dari negara mana saja yang baca blog kita dan berapa banyak orangnya.
Salah satu tips strategi yang dapat dipakai di-wordpress untuk jangkauan audience yang lebih luas, kita bisa aktifkan plugin translate ke Bahasa Inggris otomatis.
Sehingga jika blog aslinya dalam Bahasa Indonesia, audience dari negara lain dapat switch ke versi English, dan paham apa yang kita tulis.
Selalu sempurnakan strategi dari waktu ke waktu, hal apa yang perlu dilakukan untuk mengembangkan dan memperbaikinya. Inilah yang disebut tahap evaluasi.
Bagian mana yang perlu dipoles, strategi apa yang perlu dilakukan untuk menjangkau banyak pembaca, bagaimana caranya, semua itu perlu dibangun bertahap untuk menyempurnakan.
Personal branding itu memang tidak sesederhana teori, perlu tips dan trik yang tepat untuk membuatnya melekat pada pembaca.
7. Mintalah Masukan Orang Lain
“Personal branding bukan sekadar latihan pemasaran, melainkan proses menjadi versi terbaik dari diri kita.”
― Frank Sonnenberg
Jika personal branding sudah powerful, tidak ada salahnya untuk minta masukan dari orang lain. Mereka pasti punya POV yang berbeda dari kita.

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Terkadang versi terbaik dari diri kita, sebagian tumbuh karena masukan orang lain. Apa yang selama ini kita anggap sudah cukup dan sempurna, belum tentu demikian di-mata orang lain.
Masukan itu bak bahan bakar, personal branding akan jalan optimal, jika ada masukan yang membangun.
Tapi disisi lain, tetap lakukan filter, mana input yang perlu diikuti dan mana yang tidak. Batas-batasnya harus jelas. Disinilah kebiasaan untuk mempertimbangkan kurang lebihnya akan makin terasah.

(Sumber gambar: https://pixabay.com/)
Asah Komunikasi dan Katakan Tidak pada “Menunda”!
Serangkaian langkah di atas pasti ampuh untuk membangun personal branding tanpa panggung lewat tulisan.
Seorang Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi, Prof. Stella Christie, mengatakan dalam sebuah podcast di-salah satu stasiun TV, bahwa menulis itu penting.
Beliau yang pernah kuliah S1 di Harvard University, menyebutkan ada satu kelas di universitas tersebut yang diwajibkan bagi semua mahasiswa, yaitu kelas menulis.
Mengapa menulis itu penting? Menurutnya, karena menulis adalah tuangan dari pikiran.
Orang yang menulis berarti bisa mengkomunikasikan suatu hal dengan baik melalui pikirannya, terstruktur, dan berkesinambungan.
Jika tidak bisa menulis dengan baik, seorang researcher tidak mungkin bisa mengkomunikasikan penemuan-penemuan ilmiahnya. Dan dunia ini terlalu banyak masalah yang perlu dikomunikasikan dengan baik, melalui tulisan.
Komunikasi lancar, cuan jalan, dimanapun bisa menghasilkan, tak terbatas ruang dan waktu. Kalau sekelas Harvard University saja mewajibkan menulis, mengapa kita kadang mengabaikan?
Pada akhirnya, dalam berbagai hal, tulisan bisa jadi penghasilan yang mengasah komunikasi, bahkan jadi peluang remote work, bisa fleksibel dikerjakan dari mana saja.
Tak ada produk/jasa di dunia ini bisa jalan tanpa tulisan yang memberi solusi pada pain point orang lain. Jika tulisan bisa jadi sumber penghasilan, kenapa tidak?
Yuk, mulai menulis dan segera bangun branding diri dengan baik!
Kalo bisa sekarang, kenapa mesti menunda? Mari bertemu di-komunitas para penulis masa depan!