Geografi

MENGENAL PENGINDERAAN JAUH (REMOTE SENSING)

89 / 100

Apakah Penginderaan Jauh? Penginderaan Jauh dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan Remote Sensing, atau singkatan lain dalam bahasa Indonesia biasa disebut Inderaja atau PJ. Sebagai bagian dari ilmu Geografi, sesuai definisi dari USGS (United States Geological Survey), Penginderaan Jauh adalah proses mendeteksi dan memonitoring karekteristik-karakteristik fisik dari suatu wilayah di permukaan bumi, dengan cara mengukur refleksi dan pancaran radiasinya dari jarak tertentu (biasanya dari satelit atau pesawat udara). Teknologi penginderaan jauh adalah suatu kegiatan pengamatan obyek atau suatu daerah tanpa melalui kontak langsung dengan obyek tersebut (Lillesand, 1994).

Contoh Citra Satelit USGS
Contoh Citra Satelit (Sumber : USGS)

Tanpa kontak langsung dengan wilayah di permukaan bumi, kita akan mendapat gambaran kenampakannya dari atas, yang hasilnya dapat kita lihat dalam bentuk foto udara maupun citra satelit. Kamera pada satelit maupun pesawat udara dapat mengambil gambar dari permukaan bumi yang luas. Hasilnya dapat digunakan untuk berbagai macam analisis kebumian.

KEGUNAAN CITRA SATELIT PENGINDERAAN JAUH

Citra satelit dapat digunakan untuk interpretasi dan analisis berbagai bidang, seperti Oceanografi, Perencanaan Pengembangan Wilayah atau Planologi, Meteorologi dan Geofisika, Kehutanan, Lingkungan Hidup, Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Pertanahan, Geologi, Pertambangan, Oil & Gas, Pemantauan Sumber Daya Alam, dan lain sebagainya.

Contoh Citra Satelit NASA
Contoh Citra Satelit (Sumber : NASA)

Seperti halnya foto biasa, citra satelit tersusun atas piksel-piksel. Hanya saja yang membedakan citra satelit penginderaan jauh dengan foto biasa adalah lokasi di permukaan bumi. Citra satelit mempunyai koordinat longitude dan latitude atau lintang dan bujur, apabila sudah terkoreksi secara geometrik dan tergeoreferensi. Selain itu akan diperlukan juga koreksi radiometrik. Selanjutnya, citra satelit akan bisa dioverlaykan dengan peta-peta lain, baik peta topografi maupun peta tematik, serta dapat dilakukan interpretasi terhadap berbagai kenampakan pada citra tersebut. Interpretasi citra penginderaan jauh, tentunya juga sangat tergantung dari kebutuhan dan bidangnya, hal apa yang perlu diinterpretasi.

LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL (LAPAN)

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) adalah lembaga pemerintah non-kementerian yang salah satunya membidangi teknologi penginderaan jauh, untuk keperluan penelitian, pengembangan kedirgantaraan, serta penyelenggaraan keantariksaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Untuk mengenal berbagai macam teknologi satelit, Anda dapat mengunjungi website LAPAN.

SATELIT PENGINDERAAN JAUH

Jika menilik sejarah pencapaian NASA (National Aeronautics and Space Administration) sebagai Badan Penerbangan dan Antariksa milik pemerintah Amerika Serikat, dalam hal Penginderaan Jauh, maka NASA menjadi bagian sejarah panjang peluncuran berbagai satelit, yang hasil citranya digunakan oleh banyak orang.

Satelit Penginderaan Jauh
Satelit Penginderaan Jauh

Pada 1 April 1960, satelit TIROS 1 (Television and Infrared Observation Satellite) diluncurkan untuk observasi pola cuaca dari bumi.

Tahun 1966, satelit Environmental Science Services Administration (ESSA) I and II diluncurkan untuk memberikan gambaran kondisi cuaca global.

Tahun 1972, NASA meluncurkan satelit Landsat 1.

Tahun 1975 diluncurkan Synchronous Meteorological Satellites (SMS)-A dan SMS-B untuk melihat ramalan cuaca dan tutupan awan bagi kepentingan metereologi.

Tahun 1976, diluncurkan Laser Geodynamic Satellite I (LAGEOS 1), yang digunakan para scientist untuk melihat pergerakan permukaan bumi dan menambah pemahaman aktivitas gempa dan hal geologi lainnya.

Tahun 1978, satelit Heat Capacity Mapping Mission (HCMM), didemonstrasikan kemampuannya untuk mengukur variasi temperature dari angka dan untuk studi iklim berikutnya. Masih di tahun yang sama, satelit Seasat mendemonstrasikan teknik monitoring global dari lautan pada permukaan bumi. Lalu Nimbus 7 dilaunching untuk studi keterkaitan antara biologi kelautan dengan iklim di permukaan bumi.

Tahun 1984, diluncurkan satelit Earth Radiation Budget (ERBE) untuk studi bagaimana bumi menyerap dan merefleksikan energi matahari.

Tahun 1991, satelit Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) digunakan untuk studi kimia dan fisika dari atmosfer bumi.

Tahun 1992, data satelit TOPEX/Poseidon mulai menghubungkan secara detil, keterkaitan antara laut dan iklim bumi. Di tahun yang sama muncullah Atmospheric Laboratory for Applications and Science (ATLAS).

Tahun 1994, Space Radar Laboratory mendemonstrasikan penggunaan radar kompleks untuk studi ekologi, geologi, dan siklus air.

Pada tahun 1997, satelit OrbView-2 dan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRMM) diluncurkan. TRMM menyediakan data curah hujan yang diasosiasikan dengan panas selama proses kondensasi – presipitasi di daerah tropis dan sub-tropis.

Lalu tahun 1999, lahirlah satelit Landsat 7 yang digunakan untuk interpretasi permukaan lahan di wilayah pesisir bagi penelitian perubahan global, studi regional perubahan lingkungan, serta untuk tujuan sipil dan komersial. Masih di 1999, satelit QuikSCAT diluncurkan untuk memperdalam pemahaman pola perubahan iklim dan cuaca global. Dan satelit Terra diluncurkan untuk penelitian permukaan bumi, laut, udara, es, dan keseluruhan fungsi kehidupan sebagai total sistem lingkungan.

Masih ada banyak sejarah satelit lainnya yang belum dapat diceritakan saat ini. Akan diposting pada artikel berikutnya di lain waktu.

Contoh Citra Satelit Wilayah Pulau Nusa Penida, Bali
Contoh Citra Satelit Wilayah Pulau Nusa Penida, Bali (Sumber : Microsoft Bing Aerial)

Secara sederhana, hasil citra satelit penginderaan jauh, dapat Anda lihat pada Google Earth atau Microsoft Bing Aerial, yang terdiri atas gabungan berbagai macam citra dan variasi tahun perekaman, dalam bentuk tile-tile (scene-scene dan dimozaik menjadi bulat satu bumi dan dapat Anda gunakan untuk melihat berbagai macam informasi. BIla Anda melihat ada perbedaan warna citra antara dua tempat yang berdampingan, hal itu disebabkan oleh tile/scene yang berbeda dan kemungkinan satelit serta tanggal perekaman yang berbeda.

Citra Satelit pada Google Earth
Citra Satelit pada Google Earth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *